Serpihan Sejarah: Perjuangan Muhammadiyah Rappang Dimasa Lalu

hijaz.web.id - Serpihan Sejarah: Tentang Perjuangan Muhammadiyah Rappang Dimasa Lalu

Hijaz.web.id - Ketika mula pertama Muhammadiyah didirikan secara resmi sebagai Cabang Muhammadiyah Rappang pada tanggal 5 Rabi’ul Aklhir 1355 H. bertepatan 17 April 1936 M. No. 19/A.Tg.1 Mei 1936, oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah ttd. Haji Hisyam.

Yang pada waktu itu belum ada Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sidrap, yang ada hanya Cabang Rappang, yang seterusnya berkembang cabang-cabang lain di Aja’tappareng sampai Polmas.

Jadi dalam perkembangannya kota Rappang diibaratkan sebagai Yogyakarta yakni sebuah kota Kultural memiliki nilai-nilai budaya yang tinggi yang tetap dipertahankan sampai sekarang. bukan budaya Narkoba, bukan pula budaya Candoleng-doleng, apalagi yang namanya budaya penjilat sebagaimana yang dituduhkan........ Na’uzu billah.

Wahai kader-kaderku sebagai putra Sidrap yang berbudaya, jumlahmu memang sedikit, tetapi jawabnya ada pada kamu, kalau bukan sekarang kapan lagi. JANGAN BIARKAN AHMAD DAHLAN MENETESKAN AIR MATA DALAM QUBURNYA.

Masyarakat islam dikota rindang ini (kotagelaran) banyak menganggap ajaran yang dibawa Muhammadiyah sebagai ajaran aneh, karena memang banyak hal-hal yang kontradiktif dengan apa yang dipahami masyarakat dari sejak dulu.

Misalnya Muhammadiyah tidak melaksanakan Qunut untuk shalat subuh, tidak menjahar bacaan Bismillah dalam shalat, tidak menganjurkan zikir berjama’ah sesudah shalat dsb. sehingga tidak heran jika ada beberapa tokoh penganut islam setempat tidak merespon terhadap dakwah yang digalakkan Muammadiyah. Disamping itu, ada pula beberapa tema dakwah yang menjadi sorotan bahkan menjadi penolakan oleh sebahagian masyarakat karena dianggap merusak ajaran islam, sebagai contoh misalnya:

Muhammadiyah melarang meritualkan Barazanji. Yang dimaksud ritual Barazanji disini yaitu membaca Barazanji karangan Al-Jakfar secara bergantian yang didalamnya ada lafazh tertentu diharuskan berdiri ramai-ramai untuk mendengarkan lagu shalawat yang berirama klasik dibacakan oleh guru ahli Barazanji. Dalam kondisi seperti itu, semua ibu-ibu yang memasak didapur ikut pula berdiri dengan maksud untuk menyambut kedatangan roh leluhur yang datang berkunjung pada hari itu, biasanya hari ke 40 atau ke-100 kematiannya. Dalam kondisi semacam itu, semua “gumbang” tempat air ditutup, cermin dandanan juga ditutup, dan sajadah digantung terbalik.



Melarang mengadakan pesta dirumah kematian, yang dimaksud disini yaitu, berkumpul dirumah orang kematian makan-makan sambil membacakan Qur’an Al-Ikhlas menghitung batu perbiji untuk ditabur di atas kuburan orang yang baru meninggal dunia, dan acara ini hanya dilaksanakan oleh orang-orang tertentu katakanlah “berduit” kerena memerlukan pengorbanan biaya yang tidak sedikit misalnya memotong hewan sapi, mengundang guru-guru ngaji yang terkenal sambil menghadiahkan uang amplop kepada masing-masing guru. Semua ini dilakukan semata-mata untuk mendapatkan kemudahan leluhurnya dialam qubur.

Melarang acara kenduri yang berbau mistik. Yang dimaksudkan mistik oleh Muhammadiyah yaitu mengundang “guru” untuk membaca doa didepan makanan-makanan khusus kesukaan orang meninggal dunia ketika masih hidup, bukan untuk hidangan umum tetapi untuk kiriman buat leluhur melalui doa dari guru ahli. Makanan yang sudah dibacakan doa keselamatan, disimpang diatas “baki’” berisi macam-macam makanan misalnya nasi ketan berwarna warni, tungku yang berisi dupa bakar, air minum yang tidak disentuh api dapur, ayam bakar telanjang yang masih utuh berbadan lengkap, dan ada juga sobekan kain kafan terlipat rapi dibawah Baki, lalu disimpan bawah ranjang dikamar khusus yang cukup aman selama beberapa hari, biasanya tiga hari atau satu minggu.

(Hijaz Tahir)
Lebih baru Lebih lama