Sikap Kepemimpinan Nabi Sulaiman yang Mengagumkan


Hijaz.web.id - Nabi Sulaiman Alaihissalam merupakan salah satu nabi yang mendapatkan mukjizat dan amanah berupa kekuasaan sebagai pemimpin dan raja di tanah Syam atau Palestina. Kekuasaan Nabi Sulaiman sejatinya bukanlah suatu tujuan hidup seperti yang dipertontonkan oleh beberapa manusia modern.

Kekuasaan dan gelar raja yang melekat pada diri Sulaiman As. adalah ikhtiar untuk menegakkan agama Allah diatas bumi, dan salah satu bentuk kekhalifahan-nya adalah untuk menjaga bumi dan seisinya, agar kesejahteraan seluruh penghuninya bisa terjaga, termasuk di dalamnya adalah hewan-hewan mungil yang menjadi penghuni lapisan bawah tanah.

Salah satu bentuk mukjizat Nabi Sulaiman As. adalah kemampuan untuk mendengarkan dan memahami percakapan para binatang. Hal tersebut tersurat dalam surah An-naml : 18 - 19; 
"hingga apabila mereka sampai di lembah semut. Berkatalah seekor semut; semut-semut masuklah kedalam sarang-sarang agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya. Sedangkan mereka tidak menyadari maka dia tersenyum dan tertawa karena mendengar perkataan semut itu. Dan dia berdoa; Ya Tuhanku! berilah aku Ilham untuk tetap mensyukuri nikmatmu yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan 2 orang ibu dan bapakku, dan untuk mengerjakan amal sholeh yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmatmu ke dalam golongan hamba-hamba-mu yang sholeh" (QS An-naml 18 - 19).

Memahami kisah Nabi Sulaiman seharusnya mampu menyempurnakan pemahaman tentang sifat kekhalifahan yang menjadikan manusia. Kekalifahan adalah sebuah bentuk kesempurnaan dari Allah S.W.T kepada manusia dan adakalanya kekalifahan tersebut dalam bentuk amanat.




Dalam sebuah kepemimpinan, belajar dari kisah Nabi Sulaiman As. seharusnya membawa kita kepada satu hal yaitu janganlah pernah menyakiti makhluk yang tak berdaya dan memiliki posisi lemah, ribuan semut dihadapan bala tentara Nabi Sulaiman bukanlah perkara yang sepadan, tapi dengan mukjizat itulah Nabi Sulaiman mampu menunjukkan kesempurnaannya sebagai khalifah dengan cara melindungi yang lemah. 

Jabatan dan kekuasaan seringkali membuat manusia menjadi digdaya dan menjadi lupa akan kelemahannya, namun janganlah ingkar atas sebuah kepemimpinan, karena sejatinya amanat itu akan menjadi rahmat ketika yang mengembangnya mampu melindungi ,menyempurnakan dan mensejahterahkan semuanya terutama yang berada di posisi lemah, layaknya perlindungan Nabi Sulaiman As. terhadap kawanan semut.

Wallahu A'lam Bis-shawab.
(hijaz.web.id)

Lebih baru Lebih lama