Hijaz.web.id - Dalam kitab Bada-i az-Zhuhur karya al-Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abubakar as-Suyuthiy, atau yang biasa kita kenal dengan Imam Suyuthi. Meriwayatkan bahwa ketika Nabi Nuh As. berada di dalam bahtera, beliau membuat peraturan-peraturan yang diperuntukkan untuk semua makhluk tidak terkecuali para hewan juga yang berada dalam kapal Beliau.
Salah satu peraturan tersebut adalah melarang semua penumpang untuk kawin karena dikhawatirkan akan berkembangbiak dan tempatnya akan menjadi sempit.
Salah satu peraturan tersebut adalah melarang semua penumpang untuk kawin karena dikhawatirkan akan berkembangbiak dan tempatnya akan menjadi sempit.
Maka semua penumpang mematuhi aturan tersebut kecuali anjing. Anjing justru berkahwin dengan betinanya. Kucing yang melihatnya pun melaporkan hal itu kepada Nabi Nuh As. Beliau memanggil anjing, akan tetapi anjing mengingkari perbuatannya itu dan bahkan mengulangi perbuatan terlarangnya itu sampai dua dan tiga kali, kemudian kucing pun melaporkannya kembali kepada Nabi Nuh As.
Kucing berkata, "Hai Nabiyullah, mintalah dari Allah suatu tanda yang menunjukkan kepadamu sewaktu anjing itu sedang kawin, sehingga engkau percaya pada laporanku ini."
Kucing berkata, "Hai Nabiyullah, mintalah dari Allah suatu tanda yang menunjukkan kepadamu sewaktu anjing itu sedang kawin, sehingga engkau percaya pada laporanku ini."
Kemudian Nabi Nuh As. pun berdoa kepada Allah, agar anjing tersebut diberi tanda khusus saat sedang melakukan perkawinan. Allah pun mengabulkan doa Nabi Nuh.
Anjing tidak dapat segera melepaskan alat kelaminnya dari alat kelamin betinanya setelah melakukan perkawinan. Dengan demikian, pelanggaran yang dilakukan oleh anjing tersebut dapat dilihat dengan mata kepala Nabi Nuh sendiri.
Anjing tidak dapat segera melepaskan alat kelaminnya dari alat kelamin betinanya setelah melakukan perkawinan. Dengan demikian, pelanggaran yang dilakukan oleh anjing tersebut dapat dilihat dengan mata kepala Nabi Nuh sendiri.
Nabi Nuh Alaihissalam memanggil kedua Anjing itu dengan aib. Mulai saat itulah terjadi permusuhan antara kucing dan anjing. Kucing berkata “setiap aku berhubungan intim, aku berkeinginan agar tidak melihat anjing dan anjing pun tidak melihatku”.
Diceritakan bahwa ketika kotoran-kotoran hewan dalam bak yang sudah banyak berceceran di dalam perahu di dalam bahtera, maka para penumpang mengadu kepada Nabi Nuh As. Kemudian Allah S.W.T mewahyukan kepada Nabi Nuh Alaihissalam, “peraslah ekor gajah”.
Ketika Nabi Nuh As. memeras ekor gajah tersebut, keluarlah babi jantan dan babi betina kemudian babi-babi itu memakan semua kotoran-kotoran yang tercecer, setelah itu Allah Subhanahu Wa Ta'ala menciptakan tikus jantan dan betina dari bersinnya babi.
Tikus-tikus itu beranak-pinak dan terus menggerogoti kiri kanannya perahu, melihat kejadian itu para penumpang pun mengadu kembali kepada Nabi Nuh. Akhirnya para kucing liar atau musang memangsa dan memakan tikus-tikus itu dengan cepat sampai musnah. Sejak itulah awal mula terjadinya permusuhan antara kucing dan tikus.
Tikus-tikus itu beranak-pinak dan terus menggerogoti kiri kanannya perahu, melihat kejadian itu para penumpang pun mengadu kembali kepada Nabi Nuh. Akhirnya para kucing liar atau musang memangsa dan memakan tikus-tikus itu dengan cepat sampai musnah. Sejak itulah awal mula terjadinya permusuhan antara kucing dan tikus.
Referensi: Kitab Badai az-Zhuhur
(hijaz.web.id)
(hijaz.web.id)
