Mengenal Aminah, Ibunda Nabi Muhammad


Hijaz.web.id - Rasulullah yang terlahir ke bumi sebagai manusia biasa, dilahirkan dari rahim seorang wanita. Dialah wanita pemilik rahim yang mulia yakni Aminah binti Wahab, ibu yang melahirkan Muhammad, Nabi umat Islam. Aminah menikah dengan Abdullah.

Meski sedikit keterangan tentang sirah beliau, menurut sejarah ia meninggal pada tahun 577 ketika dalam perjalanan menuju Yatsrib untuk mengajak Nabi Muhammad mengunjungi pamannya dan melihat kuburan ayahnya.

Ibunda Rasulullah terlahir sebagai keturunan dari suku Quraisy, sebagai putri tokoh Bani Zuhrah yang paling tinggi nasab dan kemuliaannya. Ibunda Rasulullah selalu berada di kamar pingitannya, terhindar dari mata-mata yang tidak baik dan terjaga dari melakukan hal yang sia-sia.

Hal tersebut menyebabkan para perawi hampir tidak mampu menerangkan ciri-ciri khususnya atau menggambarkan ketika ia masih dalam masa kanak-kanaknya. Sedangkan yang diketahui oleh para sejarawan tentang Aminah, hanyalah ketika dipinang oleh Abdullah bin Abdul Muthalib.

Ada riwayat yang mengatakan bahwa Aminah (ibunda Rasulullah) pada masa kanak-kanak dan remajanya telah mengenal saudara sepupu dari pihak bapak, Abdullah bin Abdul Muthalib, sama halnya dengan anak-anak perempuan lain yang sebaya dengannya yang sudah mengenal anak-anak lelaki dari keluarga Quraisy.

Singkat cerita Aminah mulai dipingit ketika telah muncul tanda-tanda kedewasaannya, pada saat yang sama, Abdullah pun sudah memasuki masa remajanya, kemudian para pemuda Mekah saling berlomba untuk mendapatkan bunga Quraisy itu.

Sesuai dengan kehendak Allah, dengan segala rintangan kesulitan yang dilalui oleh Abdullah dan Aminah, pada akhirnya Abdullah-lah yang berhasil meminang Aminah dan menjadikannya istrinya.

Menurut adat Arab, setiap tahun Aminah pergi menziarahi ke pusara suaminya dekat kota Madinah itu. Setelah Rasulullah SAW dikembalikan oleh Halimah, tidak berapa lama kemudian, pergilah Aminah berziarah ke pusara suaminya itu bersama dengan anaknya (Muhammad SAW) yang masih dalam pangkuan, juga dengan budak pusaka ayahnya, seorang perempuan bernama Ummu Aiman.

Tetapi di dalam perjalanan pulang, Aminah ditimpa demam, lalu dia menemui ajalnya. Dia meninggal dan jenazahnya dikuburkan di Al-Abwa', suatu dusun di antara kota Madinah dengan Mekkah. Muhammad kecil lalu dibawa dalam gendongan Ummu Aiman balik ke Mekkah.

Kemudian Muhammad kecil diserahkan kepada kakeknya, Abdul Muthalib, yang merawatnya dengan penuh kasih sayang.



Berkata Ibnu Ishak:
"Maka adalah Rasulullah SAW itu hidup di dalam asuhan kakeknya Abdul Muthalib bin Hasyim. Kakeknya itu mempunyai suatu hamparan tempat duduk di bawah lindungan Ka'bah. Anak-anaknya semuanya duduk di sekeliling hamparan itu. Kalau dia belum datang, tidak ada seorang pun anak- anaknya yang berani duduk dekat, lantaran amat hormat kepada orang tua itu. Maka datanglah Rasulullah SAW, ketika itu dia masih kanak-kanak, dia duduk saja di atas hamparan itu. Maka datang pulalah anak-anak kakeknya itu hendak mengambil tangannya menyuruhnya mundur. Demi terlihat oleh Abdul Muthalib, dia pun berkata: "Biarkan saja cucuku ini berbuat sekehendaknya. Demi Allah sesungguhnya dia kelak akan mempunyai kedudukan penting.' Lalu anak itu didudukkannya di dekatnya, dibarut-barutnya punggungnya dengan tangannya, disenangkannya hati anak itu dan dibiarkannya apa yang diperbuatnya."

Saat menjelang wafatnya, Aminah berkata:
Setiap yang hidup pasti mati, dan setiap yang baru pasti usang. Setiap orang yang tua akan binasa. Aku pun akan wafat tapi sebutanku akan kekal. Aku telah meninggalkan kebaikan dan melahirkan seorang bayi yang suci.

Diriwayatkan oleh Aisyah (ra) dengan katanya:
Rasulullah SAW memimpin kami dalam melaksanakan haji wada’. Kemudian baginda mendekat kubur ibunya sambil menangis sedih. Maka aku pun ikut menangis karena tangisnya.

Sekian dari kisah Ibu Nabi Muhammad (Aminah binti Wahab). Ibu kandung Rasul yang mulia. Semoga Allah memberkahinya.

(hijaz.web.id)

Lebih baru Lebih lama