Pertama saya tekankan dulu bahwa stoicisme itu bukan aliran kepercayaan, bukan agama. Stoicism yaitu sebuah aliran filsafat yang membantu kita untuk mengontrol emosi negatif, terus mengamplifikasi bahagiaan dan rasa syukur yang kita rasakan, sederhananya begitu, dan kalau kita masuk ke dalam ilmu teologi, stoicisme ini tidak ada tumpang tindih dengan kepercayaan atau agama apapun, termasuk agama Islam, karena di Islam sendiri mengajarkan tawakal, mengajarkan mualaq dan mubram, so far yang saya ketahui antara aliran filsafat stoicisme dan Islam itu sendiri tidak berbenturan. Jadi apa itu stoicism? stoicisme itu adalah aliran pikiran yang asalnya dari Yunani kuno di zaman Romawi dan dibawa oleh Zeno dari Citium yang terus berkembang sampai saat ini, ada Seneca si Pedagang, Marcus aurelius sang Kaisar, dan Epictetus si Budak yang terus mengembangkan ajaran dari Zeno ini. Jadi bisa dibilang bahwa Stoicisme ini sangat inklusif, bukan sebuah aliran pikiran atau aliran filsafat yang hanya dinikmati oleh kalangan masyarakat tertentu, artinya guru-gurunya pun ada yang Kaisar, Pedagang bahkan seorang Budak. Kalau kita pelajari lebih dalam lagi, kita akan tahu bahwa banyak orang yang menganut aliran filsafat ini dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari sampai detik ini.
Mendefinisikan stoicisme itu agak kompleks karena cakupannya sangat luas dan banyak hal atau unsur yang harus kita pelajari. Jadi stoicisme ini mendefinisikan hidup terbagi dalam dua dimensi, pertama) dimensi internal, kedua) dimensi eksternal, inilah yang dinamakan "Dikotomi Kendali". Apa itu dimensi internal? dimensi internal adalah segala sesuatu yang berada dalam kendali kamu secara penuh, kehendakmu, etos kerjamu, komitmenmu, profesionalitasmu, suara, dan aksimu itu semua berada penuh di kendali diri kamu sendiri. Kedua dimensi eksternal, Apa itu dimensi eksternal? dimensi eksternal adalah hal-hal yang berada di luar kontrol yang sama sekali tidak bisa kamu kendalikan, contohnya pendapat orang lain, respon orang, kamu bisa melakukan sebuah aksi dan orang lain bisa melakukan reaksi atas aksi yang kamu itu, itu betul-betul di luar kontrol. Nah masalahnya adalah, manusia pada umumnya menaruh faktor kepuasan dan kebahagiaan itu di faktor eksternal, yang mana sebenarnya tidak bisa dikontrol sama sekali, untuk itu stoicisme datang untuk menyadarkan kita bahwa faktor kebahagiaan dan kepuasan ini bisa di "shifting" dari dimensi eksternal ke dimensi internal. Itulah yang menjadi fundamental dari ajaran filsafat ini, misalnya kamu seorang pekerja kantoran, profesionalitas, integritas, komitmen, dedikasi kamu kepada kerjaanmu itu semua ada di kontrolmu yakni ada pada dimensi internal, tapi keputusan untuk menaikkan jabatanmu, tanggapan semua rekan kerja atau bagaimanapun penilaian bos terhadap diri kamu, itu sudah di luar dimensi internal artinya sudah masuk dimensi eksternal, dan kita sering merasa tidak puas bekerja ketika kita bekerja merasa tidak mendapatkan apa yang kita mau dan kita merasa telah melakukan semuanya dan ujung-ujungnya rasa kesal, marah, dsb., kenapa itu bisa terjadi? karena kita menaruh faktor kebahagiaan dan kepuasan kita di dimensi eksternal, yang mana itu di luar kontrol kita. Nah ini tinggal kita ubah "shifting" ke dimensi internal artinya kepuasan dan kebahagiaan akan kita rasakan ketika kita bekerja sesuai dengan kehendak yang kita inginkan dari awal, itulah dasar dari sebuah stoicisme.
Stoicisme juga mengajarkan kita untuk bersikap rasional dan merespon semua hal dengan rasionalitas, artinya ketika kita mau melakukan sesuatu atau melakukan sebuah tindakan atau mau mengucapkan sesuatu, kita sudah berpikir kemungkinan terburuk yang akan terjadi ketika kita melakukan hal tersebut. Jadi dengan kita membayangkan segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi, kita akan lebih siap dan lebih bisa menerima, kita tidak akan merasa terpuruk dan hancur begitu dalam. Misalnya ketika kamu punya gebetan dan ingin confess ke gebetanmu, waktu kamu mau melakukan itu, kalkulasikanlah kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada dirimu ketika kamu confess, misalnya kamu kalkulasikan "kalau nembak dia, kayaknya akan ditolak dan apa yang akan terjadi ketika gagal?apakah saya akan sedih? mungkin akan sedih dan apa yang akan saya lakukan setelahnya? mungkin saya akan mencari orang lain yang mungkin cocok dengan saya", dan semua itu sudah disimulasikan dan kamu sampai ke kesimpulan bahwa "oke saya tetap nembak, walaupun resikonya gagal" dan ketika kamu nembak dan ternyata ditolak, ya sudah! sedih iya mungkin, kecewa? mungkin tapi itu tidak akan bertahan lama, kenapa? karena realita yang terjadi itu sesuai dengan ekspetasi kamu dari awal. Tapi ketika kamu diterima! Wow rasa kebahagiaannya teramplifikasi, lebih bahagia daripada yang kamu ekspektasikan dari awal. jadi selalu lakukan yang terbaik dan bersiap untuk yang terburuk.
Di Zaman sekarang ini segala informasi melaju kencang dan filternya semakin berkurang, kamu bisa dapatkan jutaan informasi dalam satu hari dan tidak bisa dibatasi, dan disatu sisi itu adalah hal yang baik, hal yang memajukan peradaban, hal yang membawa manusia ke kehidupan selanjutnya, tapi disisi yang lain kita tidak bisa membuang fakta, bahwa hal ini punya dampak yang cukup impactful, misalnya kamu buka YouTube sekarang, lalu scroll beranda menemukan konten-konten kayak ada anak-anak muda yang sudah bisa sukses dalam usia tahun 20 tahun, terus kamu buka instastory, kamu lihat teman-temanmu main saham, crypto atau apapun, dan mereka bisa terlihat lebih seatle darimu dan kamu merasa mereka jauh lebih kaya daripadi kamu yang hanya pergi ke kantor, ketemu teman-teman kerja kamu, dan disitulah mendapatkan cerita bahwa "wah hidup teman-teman kerjamu jauh lebih enak dari apa yang kamu harus rasakan", nah itulah efek dari keterbukaan informasi seperti sekarang. Karena terus-menerus menghadapi situasi ini akhirnya membuat mindset kita berpikir bahwa "apa yang salah dari hidup kita? kenapa hidup kita begitu tertinggal? kenapa orang lain begitu maju dan saya begini saja?" kita bingung, kita terjebak dalam lomba lari yang sebenarnya tidak pernah ingin kita ikuti, tapi mau tidak mau kita harus lari, berujung jadi iri, iri berujung jadi dengki, kita akhirnya membeli barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan untuk memukau orang-orang yang sebenarnya tidak kita suka dari uangnya yang kita tidak punya.
Itulah yang banyak terjadi di era sosial media seperti sekarang, makanya jangan heran yang namanya pinjol, money game, investasi bodong, ponzi itu masih sanga subur tumbuh di masyarakat walaupun zaman semaju sekarang. Karena balik lagi, mentalitas yang haus atau pembuktian dan haus akan validasi itu terus-menerus tumbuh di generasi sekarang, seakan-akan hidup itu soal bagaimana kita diakui orang dan bagaimana kita dilihat orang. Saya sekarang tidak pernah merasa terganggu dengan apapun pencapaian orang lain dan tidak pernah merasa harus melakukan pembuktian apapun ke orang lain. Dan saya tidak akan pernah mempermasalahkan jika dianggap sebagai orang gagal, dianggap sampah oleh orang lain, karena itu berada diluar kontrol, you benci saya? ya sudah, you suka! Ya alhamdulillah, karena stoicisme membantu kita menciptakan kebahagiaan dan ketenangan kita sendiri. Sekarang saya sadar kalau rasa bahagia itu bukan terletak pada seberapa tinggi sebuah pencapaian, tapi seberapa rasional sebuah harapan.

Posting Komentar